Lubrikasi bearing yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan bearing sejak dini, meskipun pelumasan sebenarnya berfungsi mengurangi gesekan dan melindungi komponen dari keausan. Penggunaan pelumas yang tidak sesuai, jumlah grease yang berlebihan atau terlalu sedikit, suhu operasional tinggi, serta kontaminasi dapat mengurangi efektivitas pelumasan dan memperpendek usia pakai bearing.
Bearing atau laher, khususnya jenis rolling-element bearing, bekerja dengan menggunakan elemen gelinding berupa bola (ball bearing) atau rol (roller bearing) untuk menopang poros dan membantu mengurangi gesekan saat mesin beroperasi. Komponen ini banyak digunakan dalam berbagai peralatan, mulai dari perangkat sederhana hingga mesin industri.
Apakah Lubrikasi Dapat Merusak Bearing?
Sebagian bearing dirancang dengan pelumasan awal dan tidak selalu membutuhkan penambahan pelumas selama masa pakai tertentu. Namun, banyak bearing pada mesin industri memerlukan pelumasan dan pemeriksaan berkala agar dapat bekerja secara optimal.
Saat beroperasi, bearing mengandalkan lapisan pelumas tipis di antara permukaan yang saling bergerak untuk mengurangi kontak langsung, gesekan, dan keausan. Apabila lapisan ini tidak terbentuk dengan baik atau kualitas pelumas menurun, permukaan bearing dapat mengalami kerusakan lebih cepat.
Lantas, bagaimana lubrikasi dapat mempengaruhi usia pakai bearing? Berikut lima hal yang perlu diperhatikan.
1. Penggunaan Lubrikasi yang Tidak Sesuai
Setiap pelumas memiliki karakteristik berbeda, mulai dari viskositas, kandungan aditif, hingga konsistensi pada grease. Pemilihan pelumas harus disesuaikan dengan tipe bearing, kecepatan putaran, beban kerja, suhu, dan kondisi operasional mesin.
Viskositas merupakan tingkat kekentalan pelumas yang mempengaruhi kemampuannya membentuk lapisan pelindung pada permukaan bearing. Pelumas yang terlalu encer dapat kesulitan mempertahankan lapisan pelindung pada kondisi tertentu, sedangkan pelumas yang terlalu kental dapat meningkatkan hambatan gerak dan panas.
Selain itu, pencampuran oli atau grease dengan karakteristik berbeda tanpa memastikan kompatibilitasnya dapat mengubah sifat pelumas. Pada grease, pencampuran yang tidak kompatibel bahkan dapat mengubah konsistensi dan kemampuan pelumas dalam memberikan perlindungan.
Untuk menjaga performa bearing, gunakan pelumas sesuai rekomendasi produsen. Jika ingin mengganti jenis pelumas, pastikan kompatibilitasnya dan ikuti prosedur penggantian yang tepat.
Baca juga: Kelebihan Double Row Bearing dan Fungsi Self Aligning Ball Bearing
2. Jumlah Lubrikasi yang Terlalu Sedikit
Kekurangan pelumas dapat menghambat pembentukan lapisan pelindung di antara elemen gelinding dan lintasan bearing. Akibatnya, gesekan meningkat dan permukaan komponen lebih rentan mengalami keausan.
Pada bearing yang menggunakan grease, jumlah pelumas dan interval penambahan harus disesuaikan dengan spesifikasi bearing serta kondisi penggunaannya. Sementara itu, pada sistem pelumasan oli, level dan sirkulasi oli perlu dijaga sesuai rancangan mesin.
Jika pelumasan tidak mencukupi, panas dan partikel keausan dapat terbentuk. Partikel tersebut berpotensi mencemari pelumas dan mempengaruhi komponen lain dalam sistem mekanis.
Oleh karena itu, lakukan pemeriksaan pelumasan secara berkala. Pastikan jumlah pelumas mencukupi dan interval pengisian mengikuti rekomendasi produsen, bukan hanya berdasarkan perkiraan.
3. Lubrikasi yang Terlalu Banyak
Penambahan pelumas dalam jumlah berlebihan juga dapat menimbulkan masalah. Pada bearing berkecepatan tinggi, grease yang terlalu banyak dapat meningkatkan hambatan gerak karena elemen gelinding harus bergerak melalui grease berlebih.
Kondisi ini membuat mesin membutuhkan energi lebih besar untuk berputar dan dapat meningkatkan suhu operasional. Panas berlebih kemudian berpotensi mempercepat oksidasi serta menurunkan kualitas pelumas.
Karena itu, penambahan grease tidak selalu berarti perlindungan bearing menjadi lebih baik. Jumlah yang tepat justru menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja pelumasan.
Untuk menghindari masalah tersebut, sesuaikan volume grease dengan kapasitas bearing, kecepatan putaran, dan petunjuk produsen. Jika suhu meningkat setelah pelumasan, periksa kemungkinan kelebihan grease serta faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja bearing.
4. Suhu Lubrikasi Terlalu Tinggi
Suhu memiliki pengaruh langsung terhadap karakteristik pelumas. Ketika suhu meningkat, viskositas oli umumnya menurun. Dalam kondisi tertentu, perubahan ini dapat mengurangi kemampuan oli mempertahankan lapisan pelindung pada permukaan bearing.
Suhu tinggi juga dapat mempercepat oksidasi pelumas dan degradasi aditif sehingga kualitas lubrikasi menurun. Apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, perlindungan terhadap gesekan dan keausan dapat menjadi kurang optimal.
Jika bearing beroperasi pada lingkungan bersuhu tinggi, pilih pelumas yang sesuai dengan rentang suhu aplikasi. Namun, apabila peningkatan suhu berasal dari dalam mesin, penyebabnya perlu diperiksa terlebih dahulu, termasuk jumlah grease, kondisi pelumasan, dan keselarasan poros.
Dengan menjaga suhu operasional tetap sesuai spesifikasi, pelumas dapat mempertahankan kinerjanya dan membantu melindungi bearing dalam jangka panjang.
5. Kontaminasi pada Lubrikasi
Kontaminasi dapat menurunkan kualitas pelumas dan mengganggu kemampuannya melindungi bearing. Secara umum, kontaminasi pada sistem pelumasan dapat berupa partikel padat maupun cairan, terutama debu, kotoran, dan air.
Kontaminasi partikel padat
Debu, pasir, dan serpihan logam dapat masuk ke dalam sistem melalui seal yang rusak, lubang yang tidak terlindungi, atau proses pengisian pelumas yang kurang bersih.
Partikel tersebut dapat terjebak di antara elemen gelinding dan lintasan bearing. Kondisi ini menimbulkan abrasi atau goresan pada permukaan komponen dan dapat mempercepat keausan.
Kontaminasi air
Air dapat masuk melalui seal yang tidak rapat, kondensasi akibat kelembapan, atau proses perawatan yang kurang tepat. Ketika bercampur dengan oli, air dapat mengganggu pembentukan lapisan pelumas, memicu korosi, dan mempercepat degradasi pelumas.
Pada kondisi tertentu, air juga dapat memicu reaksi hidrolisis yang mengubah komponen kimia pelumas dan mengurangi efektivitas aditifnya.
Baca juga: Fungsi Connecting Rod Bearing, Cara Kerja, dan Gejala Kerusakannya
Untuk mencegah kontaminasi, pastikan wadah penyimpanan pelumas tetap tertutup, peralatan pengisian bersih, dan seal bearing berada dalam kondisi baik. Jika terdapat indikasi air atau partikel asing dalam pelumas, lakukan pemeriksaan sebelum kerusakan berkembang lebih jauh.
Anugerah Jaya Bearing, Partner Kebutuhan Bearing dan Komponen Industri
Lubrikasi bearing berperan penting dalam menjaga kelancaran putaran dan memperpanjang usia pakai komponen. Namun, pelumasan yang tidak sesuai justru dapat mempercepat kerusakan bearing sejak dini.
Pemilihan pelumas yang tepat, jumlah grease yang sesuai, pengendalian suhu, dan pencegahan kontaminasi merupakan bagian penting dari perawatan bearing. Pemeriksaan berkala juga membantu memastikan pelumas tetap bekerja sesuai kebutuhan aplikasi.
Anugerah Jaya Bearing menyediakan berbagai kebutuhan komponen mekanis, termasuk bearing, pelumas, coupling, spare part, dan roller chain untuk berbagai aplikasi industri.
Kami memahami bahwa pemilihan bearing dan komponen pendukung perlu disesuaikan dengan kebutuhan mesin. Karena itu, Anda dapat menghubungi Anugerah Jaya Bearing untuk memperoleh informasi produk dan berkonsultasi mengenai komponen yang sesuai dengan aplikasi Anda.
Contact Sales
About The Author: Anugerah Jaya Bearing
Distributor Bearing Terbaik dan Terpercaya – ASB, NTN, Koyo, FAG, Roller Chain
More posts by Anugerah Jaya Bearing